JENIS-JENIS KERUSAKAN PADA BETON BERTULANG DAN PADA LAPISAN CAMPURAN BERASPAL SERTA UPAYA MENANGANINYA
KERUSAKAN BETON
Beton adalah
salah satu bahan konstruksi yang umum digunakan untuk bangunan gedung,
jembatan, jalan, dan lain-lain. Beton dipilh karena sifatnya yang mampu
menahan gaya tekan dengan baik, serta mempunyai sifat tahan terhadap korosi dan
pembusukan oleh kondisi lingkungan. Selain itu beton segar atau beton yang baru
dibuat dapat dengan mudah dicetak sesuai dengan keinginan. Cetakannya dapat
pula dipakai berulang kali sehingga lebih ekonomis. Beton segar ini dapat
disemprotkan pada permukaan beton lama yang retak maupun dapat diisikan kedalam
retakan beton dalam proses perbaikan. Selain itu juga dapat mudah dipompakan
sehingga memungkinkan untuk dituang pada tempat-tempat yang posisinya sulit.
Kelebihan lain dari beton adalah tahan aus dan tahan bakar, sehingga
perawatannya lebih murah.
Tetapi
selain kelebihan-kelebihan yang disebutkan diatas, beton juga mempunyai
kekurangan-kekurangan yaitu beton dianggap tidak mampu menahan gaya tarik,
sehingga mudah retak, oleh karena itu perlu di beri baja tulangan sebagai
penahan gaya tarik. Beton yang telah keras juga dapat menyusut dan mengembang
bila terjadi perubahan suhu sehingga perlu dibuat dilatasi (expansion joint)
untuk mencegah terjadinya retakan-retakan akibat terjadinya perubahan suhu dan
terakhir, beton bersifat getas (tidak daktail) sehingga harus dihitung dan
diteliti secara seksama agar setelah dikompositkan dengan baja tulangan menjadi
bersifat daktail (liat atau alot), terutama pada struktur tahan gempa.
Adapun berikut adalah jenis jenis kerusakan yang terjadi pada beton
bertulang sebagai berikut:
1. SPALLING
Spalling adalah
retak, pecah atau chipping pada joint atau pula retak pinggir. Biasanya terjadi
0,6 meter dari joint/retak pinggir. Spalling
dapat menyebabkan lepas berpuing pada beton, roughness, yang umumnya
merupakan indikator kelanjutan kerusakan joint/retak.
Biasanya spalling
disebabkan oleh terlampauinya tegangan pada joint/retak yang disebabkan infiltrasi
incompressible material dan kelanjutan dari proses expansi. Disintergrasi beton
dari freeze-thaw atau retak “d”. Lemahnya beton pada joint kerena kurang
padat. Missalignment atau dowel berkarat dan juga beban lalu lintas yg
berat atau berlebihan.
Cara
perbaikan ::
1. Patching
Untuk
spalling yang tidak terlalu dalam (kurang dari selimut beton) dan area yang
tidak luas, dapat digunakan metode patching. Metode perbaikan ini adalah metode
perbaikan manual, dengan melakukan penempelan mortar secara manual. Pada saat
pelaksanaan yang harus diperhatikan adalah penekanan pada saat mortar
ditempelkan, sehingga benar-benar didapatkan hasil yang padat.
Material
yang digunakan harus memiliki sifat mudah dikerjakan, tidak susut dan tidak
jatuh setelah terpasang (lihat maksimum ketebalan yang dapat dipasang tiap
lapis), terutama untuk pekerjaan perbaikan overhead. Umumnya yang dipakai
adalah monomer mortar, polymer mortar dan
epoxy mortar.
2. Grouting
Sedang pada spalling yang melebihi selimut beton,
dapat digunakan metode grouting,
yaitu metode perbaikan dengan melakukan pengecoran memakai bahan non-shrink
mortar. Metode ini dapat dilakukan secara manual (gravitasi) atau menggunakan
pompa.
Pada metode
perbaikan ini yang perlu diperhatikan adalah bekesting yang terpasang harus
benar-benar kedap, agar tidak ada kebocoran spesi yang mengakibatkan terjadinya
keropos dan harus kuat agar mampu menahan tekanan dari bahan grouting.
Material
yang digunakan harus memiliki sifat mengalir dan tidak susut. Umumnya digunakan
bahan dasar semen atau epoxy.
3.
Shotcrete (Beton Tembak)
Shotcrete merupakan metode ketiga, yaitu metode yang sebaiknya dilakukan apabila spalling terjadi pada area yang sangat
luas. Pada metode ini tidak diperlukan bekesting lagi seperti halnya pengecoran
pada umumnya. Metode shotcrete ada dua sistim yaitu dry-mix dan wet-mix.
Pada sistem dry-mix, campuran yang dimasukkan dalam
mesin berupa campuran kering dan akan tercampur dengan air di ujung selang.
Sehingga mutu dari beton yang ditembakkan sangat tergantung pada keahlian
tenaga yang memegang selang yang mengatur jumlah air. Tapi sistim ini sangat
mudah dalam perawatan mesin shotcrete-nya,
karena tidak pernah terjadi ‘blocking’.
Pada sistem wet-mix, campuran yang dimasukkan dalam
mesin berupa campuran basah, sehingga mutu beton yang ditembakkan lebih
seragam. Tapi sistim ini memerlukan perawatan mesin yang tinggi, apalagi bila
sampai terjadi ‘blocking’.
Pada metode shotcrete, umumnya digunakan additive
untuk mempercepat pengeringan (accelerator),
dengan tujuan mempercepat pengerasan dan mengurangi terjadinya banyaknya bahan
yang terpantul dan jatuh (rebound).
4.
Grout Preplaced Aggregat (Beton
Prepack)
Metode
perbaikan lainnya untuk memperbaiki kerusakan berupa spalling yang cukup dalam adalah dengan metode Grout Preplaced Aggregat. Pada metode ini beton yang dihasilkan
adalah dengan cara menempatkan sejumlah agregat (umumnya 40% dari volume
kerusakan) kedalam bekesting, setelah itu dilakukan pemompaan bahan grout, kedalam bekesting.
Material grout yang umumnya digunakan adalah
polymer grout, yang memiliki flow cukup tinggi dan tidak susut.
2. Pemompaan (Pumping)
Pemompaan adalah peristiwa
terangkatnya campuran air, pasir, lempung di sepanjang
sambungan transversal atau longitudinal. Tahap awal dari pemompaan
lapis pondasi dari material granuler sama dengan pemompaan pada tanah
berbutir halus. Suatu rongga terbentuk oleh beban yang berulang-ulang pada
material pondasi. Rongga-rongga ini awalnya adalah akibat dari pemadatan lapis
pondasi atau tanah dasar yang tidak baik, atau dapat pula rongga berasal
dari butiran halus yang terkumpul di dalam lapis pondasi akibat
deformasi permanen yang berlebihan pada bagian lapis pondasi sebelah atas.
Kemudian air masuk ke dalam rongga. Jika material granuler gradasinya
padat, maka material akan tetap di bawah pelat sampai terangkut oleh
pengaruh defleksi pelat akibat beban berulang dari lalu lintas. Retak
transversal dapat terjadi oleh akibat pemompaan. Retak ini diakibatkan
oleh material berbutir halus yang terangkut ke atas dari tanah dasar,
sehingga mengurangi cukungan tanah dasar pada pelat beton. Tipe kerusakan semacam ini tidak mudah untuk di identifikasi.
Kemungkinan kerusakan
dapat dikenali dengan sambungan atau retakan yang di sampingnya terdapat endapan
material berbutir halus yang terpompa.
Faktor
penyebab kerusakan :
Seperti yang
telah dijelaskan diatas adalah akibat terpompanya material berbutir halus
dari tanah-dasar atau lapis pondasi, ketika retakan atau sambungan tergenang
air dan dilalui kendaraan secara berulang-ulang, sehingga mengurangi
dukungan tanah dasar pada pelat beton.
Cara
perbaikan :
·
Menutup retakan atau celah sambungan
dengan material pengisi (joint sealing).
·
Menyuntikkan (grouting) material
pengisi ke dalam rongga di bawah pelat yang retak (under seal).
3. Blow-up/Buckling
Blow-up/bucklings adalah
rusaknya beton akibat tekuk (buckling) lokal dari beton. Biasanya terjadi pada retakan atau
sambungan melintang yang mengalami tegangan tekan yang tinggi, yaitu jika
material keras mengisi sambungan, sehingga menghambat pemuaian pelat beton.
Sebagai akibatnya ujung pelat beton terangkat secara lokal dan terjadi
penekukan di dekat sambungannya. Blow-up sering terjadi selama
musim panas, di mana pelat memuai secara berlebihan.
Menghindari blow-up adalah
dengan merawat sambungan secara reguler agar ruang ekspansi tersedia saat
beton memuai. Untuk hal ini sambungan harus selalu dibersihkan.
Faktor
penyebab kerusakan :
Sambungan
pelat terisi dengan material keras (ex : pasir, kerikil)
sehingga menghambat pemuaian pelat beton.
Cara
perbaikan :
·
Menambal di kedalaman parsial atau
di seluruh kedalaman pelat.
·
Penggantian pelat.
4. Punch-out
Punch-out adalah
kerusakan lokal pada beton yang pecah menjadi beberapa bagian yang relative
kecil. Sering di ikuti dengan tenggelamnya/tertimbunnya pecahan pelat. Punch-out mempunyai
banyak perbedaan bentuk, biasanya didefinisikan dari retakan dan sambungan atau
retak yang berjarak dekat (biasanya berjarak 1.5 m)
Faktor
penyebab kerusakan :
·
Pelat beton yang terlalu tipis.
·
Pengecoran beton buruk.
Cara perbaikan :
·
Retakan di isi.
·
Penambalan di seluruh kedalaman
pelat yang pecah.
5. Rocking
Rocking adalah fenomena
dinamik yang berupa gerakan vertikal pada sambungan atau retakan akibat beban
lalu lintas. Biasanya, rocking terjadi akibat turunnya tanah
dasar atau pemompaan (pumping) lapisan pendukung di bawah pelat,
sehingga dukungan hilang yang dapat menimbulkan patah permanen.
Faktor penyebab kerusakan :
·
Pemadatan yang buruk pada lapis
pondasi bawah.
·
Tanah dasar buruk.
·
Terjadi beda penurunan pada
tanah-dasar.
·
Hilangnya butiran halus pada lapis
pondasi bawah (subbase) atau tanah-dasar akibat pemompaan.
Cara perbaikan :
·
Dilakukan penutupan retakan dengan
bahan pengisi retakan (crack filling).
·
Dilakukan penutupan sambungan dengan
pengisi sambungan (joint sealing).
·
Jika mungkin, pelat yang patah
diangkat ke posisi semula dan di ikuti dengan pengisian menggunakan bahan
pengisi (ex: growing dengan
semen).
6. Scaling/Map
Cracking/Crazing
Map cracking atau crazing menunjukkan suatu bentuk
jaringan retak dangkal, halus atau retak rambut yang berkembang hanya di
permukaan beton. Retakan cenderung bersudut 1200. Map cracking atau
crazing biasanya disebabkan oleh pekerjaan akhir beton yang berlebihan (overfinishing)
dan mungkin berakibat scaling yang memecahkan permukaan beton
pada kedalaman sampai 1/4 - 1/2 in (6--13 mm).
Scaling merupakan pengelupasan permukaan beton semen portland
secara berangsur-angsur akibat hilangnya mortar yang diikuti dengan hilangnya
agregat, atau hilangnya agregat oleh akibat gangguan, yang diikuti dengan
hilangnya mortar. Dalam kerusakan yang sudah parah, pengelupasan permukaan
beton bisa berlanjut sampai kedalaman yang dalam. Scaling mudah sekali
dikenali dan merupakan kerusakan yang umum
terjadi pada beton. Ditinjau dari kekuatan struktur, kerusakan
semacam ini tidak berakibat serius.
Faktor penyebab kerusakan :
·
Pencampuran adukan beton buruk.
·
Agregate kotor yang menyebabkan
lumpur dan lempung mengalir ke permukaan saat proses penyelesaian.
·
Perawatan/pengeringan beton kurang baik.
·
Siklus beku-cair, hilangnya lapisan
es.
Cara perbaikan :
·
Pelat diganti.
·
Penambalan parsial atau di seluruh
kedalaman
·
Pada area rusak dengan kedalaman
sekitar 10 mm atau kurang, perbaikan sementara dapat dilakukan
dengan menggunakan penutup larutan emulsi aspal.
·
Jika kerusakan beton
dalam, beton hares (hull) dengan beton aspal sebagai lapisan tambahan (overlay)
7. Gompal (Spoiling)
Gompal pada sambungan dan sudut adalah pecan atau disintegrasi
dari beton pada bagian pinggir perkerasan, sambungan atau retakan pada
arah memanjang atau melintang. Gompal tidak meluas ke seluruh pelat, tapi hanya
memotong sebagian sambungan atau retakan di sudut.
Faktor penyebab kerusakan :
·
Akibat dari penutupan sambungan atau
retakan yang buruk, sehingga memungkinkan material keras masuk ke dalam
lubang sambungan atau retakan.
·
Bentuk sambungan buruk. Gompal
terjadi oleh akibat panas yang menyebabkan pelat memuai. Pemuaian ini
memecahkan beton pada sambungan atau retakan yang terisi oleh
material keras, karena pemuaian pelat menjadi tertahan.
·
Dowel yang
digunakan untuk alat transfer beban memotong sambungan ekspansi, tidak
diletakkan dalam posisi sejajar dengan sumbu dan permukaan beton.
Cara
perbaikan
·
Penambalan pada sebagian kedalaman,
untuk kedalaman gompal lebih besar dari 50 mm.
·
Pelapisan tambahan tipis, untuk
kedalaman gompal kurang dari 50 mm.
8. Agregat
Licin (Polished Aggregate)
Agregat
licin adalah tergosoknya partikelagregat di permukaan beton, sehingga
permukaannya menjadi licin karena aus. Kadang-kadang, permukaan beton
menjadi licin dan mengkilat.
Faktor penyebab kerusakan :
·
Kualitas agregat campuran beton
tidak bagus, sehingga akibat dari beban lalu lintas, permukaan beton menjadi
aus dan licin terutama saat basah atau hujan. Beberapa kerikil secara alami
permukaannya halus. Bila agregrat ini tidak dipecah saat digunakan dalam
campuran beton maka akan mengurangi kekesatan permukaan.
·
Kualitas mortar pada permukaan tidak
baik.
·
Pengcoran beton kurang baik sehingga
mengakibatkan naiknya air semen ke permukaan.
Cara perbaikan :
·
Permukaan beton ditutup dengan
astral yang tahan aus.
·
Dibuat alur-alur kecil untuk
mengkasarkan permukaan.
9. Popouts
Popouts adalah pecahan kecil-kecil beton akibat aksi kombinasi beku-cair dan
ekspansi agregat yang menyebabkan material beton lepas dan menyebar
dipermukaan. Popouts biasanya berdiameter antara 25-100 mm dengan
kedalaman 13 - 50 mm.
Faktor
penyebab kerusakan :
Aksi kombinasi beku-cair dan ekspansi agregrat yang
menyebabkan material lepas dan menyebar dipermukaan.
Cara perbaikan :
Tidak perlu diperbaiki.
10. Tambalan dan
Galian Utilitas (Patching and Utility Cuts)
Tambalan
adalah area beton asli yang telah dibongkar dan diganti dengan material
pengisi. Penambalan sering dilakukan dalam area beton guna perbaikan
beton, di mana di bawah beton ada
parit atau lubang yang harus diperbaiki. Oleh kurangnya pemadatan,
maka di area tambalan ini terjadi penurunan yang merusak tambalan.
Faktor penyebab kerusakan :
·
Pemadatan tambalan kurang.
·
Cara penambalan tidak benar.
Cara
perbaikan :
·
Tambalan dibongkar dan lapis pondasi
bawah dipadatkan lagi, lalu ditambal.
·
Perbaikan sementara dapat dilakukan
dengan menambal beton yang rusak di permukaan.
11. Lubang
(Pothole)
Lubang adalah kerusakan
berbentuk cekungan akibat penurunan permukaan beton, dengan tidak memperlihatkan
pecahan-pecahan bersudut seperti gompal. Pada kerusakan lubang, beton pecah dan
ambles. Kedalaman lubang dapat bertambah oleh pengaruh air. Lubang
ini terjadi akibat retak dan disintegrasi dari pelat beton.
Faktor
penyebab kerusakan :
·
Retak lokal didalam tulangan yang
terbuka
·
Aksi pembekuan
·
Penempatan dowel terlalu dekat
dengan permukaan
·
Retakan atau kerusakan lain yang
tidak segera ditutup
Cara
perbaikan :
·
Penambalan beton yang rusak
dipermukaan untuk perbaikan sementara
·
Penambalan di seluruh kedalaman
untuk perbaikan permanen
12. Retak Memanjang
(Longitudinal Cracks)
Retak memanjang atau longitudinal cracks adalah retak individual atau tidak
saling berhubungan antar retakan satu sama lain yang memanjang disepanjang
beton. Retak ini bisa nampak sebagai individu maupun sekelompok retakan
yang sejajar.
Faktor penyebab kerusakan :
·
Beda penurunan pada tanah-dasar.
·
Susut lateral, karena pelat terlalu
lebar.
·
Sambungan memanjang terlalu dekat
dengan jalur iintasan lalu
·
Sambungan memanjang terlalu dangkal.
·
Pelat kurang tebal.
Cara perbaikan :
·
Untuk celah yang
kecil (misalnya kurang dari 5 mm), maka dapat dilakukan
pengisian celah dengan aspal. Retakan dibersihkan dan ditutup untuk
mencegah infiltrasi air ke dalam celah beton.
·
Untuk celah yang lebih lebar
(misalnya lebih dari 5 mm), maka
dilakukan pembangunan pelat kembali secara lokal.
·
Penambalan di seluruh kedalaman.
13. Retak
Melintang (Transversal Cracks)
Retak
melintang atau transversal adalah retak individual atau tidak saling
berhubungan antara retakan satu sama lain yang melintang sepanjang beton. Jika
pelat yang panjang dibangun, retak melintang dapat timbul akibat
pelengkungan atau kontraksi yang berlebihan dari pelat.
Beton dengan
menggunakan semen portland yang tidak ditengkapi
dengan tulangan baja, apabila ada perubahan temperatur akan Iebih beresiko mempunyai retak melintang yang lebar. Jika retakan tidak mendapat transfer beban pada tampang retakan, maka dapat
dipastikan kerusakan tersebut akan berkelanjutan.
dengan tulangan baja, apabila ada perubahan temperatur akan Iebih beresiko mempunyai retak melintang yang lebar. Jika retakan tidak mendapat transfer beban pada tampang retakan, maka dapat
dipastikan kerusakan tersebut akan berkelanjutan.
Faktor penyebab kerusakan :
·
Penyusutan beton selama masa
perawatan dan -felat beton terlalu panjang.
·
Adanya rocking (gerakan
vertikal pada sambungan atau retakan, oleh beban dinamis lalu lintas).
·
Pelat beton kurang tebal.
Cara perbaikan :
·
Untuk celah yang
kecil (misalnya kurang dari 5 mm), maka dilakukan
pengisian celah dengan aspal. Retakan dibersihkan dan ditutup untuk
mencegah infiltrasi air ke dalam celah beton.
·
Untuk celah yang lebih
lebar (misalnya lebih dari 5 mm), maka dilakukan
pembangunan pelat kembali secara lokal.
·
Penambalan di seluruh kedalaman.
14. Retak
Diagonal (Diagonal Cracks)
Retak
diagonal adalah retak individual atau tidak saling berhubungan antara retakan
satu sama lain yang menyilang secara diagonal pada permukaan beton. Penyebab
kegagalan struktur semacam ini adalah kibat dari memadatnya tanah dasar berupa
pasir halus, sehingga mengurangi kekuatanya dalam mendukung pelat. Kondisi ini
mengakibatkan pecahnya pelat beton akibat tegangan yang berlebihan dalam pelat.
Faktor penyebab kerusakan :
·
Susutnya beton selama masa perawatan
dan panjang pelat yang berlebihan.
·
Penurunan tanah dasar dan beton.
·
Pelat beton kurang tebal.
·
Pelat mengalami rocking.
Cara
perbaikan :
·
Untuk celah yang
kecil (misalnya kurang dari 5 mm), maka dilakukan
pcngisian celah dengan aspal. Retakan dibersihkan dan ditutup untuk
mencegah infiltrasi air ke dalam celah beton.
·
Untuk celah yang lebih lebar
(misalnya lebih dari 5 mm), maka dilakukan pembangunan kembali pelat secara
lokal.
·
Penambalan di seluruh kedalaman.
15. Retak
Berkelok-kelok (Meandering Cracks)
Retak berkelok-kelok adalah retak berkelok-kelok tidak beraturan
yang bersifat individual atau tidak saling berhubungan antara satu sama lain.
Faktor penyebab kerusakan :
·
Penyusutan pelat sclama masa
pengeringan beton dengan panjang pelat yang berlebihan.
·
Pelat beton kurang tebal.
·
Pelat mengalami rocking.
·
Penurunan beton dan tanah dasar.
Cara perbaikan :
·
Untuk celah yang
kecil (misalnya kurang dari 5 mm), maka dilakukan
pengisian celah dengan aspal. Retakan dibersihkan dan ditutup untuk mencegah
infiltrasi air ke dalam perkerasan.
·
Untuk celah yang lebih
lebar (misalnya lebih dari 5 mn), maka dilakukan
pembangunan kembali pelat secara lokal.
·
Penambalan di seluruh kedalaman.
16. Pecah
Sudut/Retak Sudut (Corner Breaks/Corner Cracks)
Pecah sudut
atau retak sudut adalah retakan atau pecahan yang terjadi di sudut pelat beton,
dengan bentuk pecahan berupa segitiga. Pecahan beton memotong sambungan pada
jarak kurang atau sama dengan setengah dari panjang pelat di kedua sisi
panjang dan lebarnya yang diukur dari sudut pelat. Pecah sudut berbeda dengan
gompal sudut, di mana pecah sudut berkembang memotong keseluruhan pelat
secara vertikal, sedang gompal di sudut
adalah gompal yang memotong sambungan dengan sudut tertentu.
Faktor
penyebab kerusakan :
·
Beban lalu lintas berulang yang
berlebilian dan kurangnya dukungan tanah dasar. Kurangnya dukungan tanah
dasar diakibatkan oleh pemompaan, atau hilangnya transfer beban pada
sambungan memanjang dan melintang.
·
Pelat beton kurang tebal.
Cara
perbaikan :
·
Pengisian retak dengan aspal untuk
retakan melebihi 3 mm. Retakan dibersihkan dan ditutup untuk mencegah
infiltrasi air ke dalam celah beton.
·
Penambalan di seluruh kedalaman.
·
Untuk celah yang lebih
lebar (misalnya lebih dari 5 mm), maka dapat dilakukan
pembangunan pelat kembali secara lokal.
17. Retak
Susut (Shrinkage Cracks)
Retak susut adalah retak rambut yang biasanya hanya beberapa
meter dan tidak berkembang memotong
seluruh pelat. Retak ini terjadi saat waktu
perawatan beton dan biasanya tidak sampai memotong ke seluruh
kedalaman tebal pelat.
Faktor penyebab kerusakan :
Penyusutan beton pada waktu masa perawatan.
Cara perbaikan :
Tidak perlu diperperbaiki.
18.
Retak Bersilangan Pelat Pecah (Shattered
Slab Intersecting Cracks)
Retak
bersilangan adalah retak yang memecahkan pelat beton menjadi 4 atau lebih
kepingan, yang diakibat dari beban lalu lintas berlebihan.
Faktor
penyebab kerusakan :
·
Beban berlebihan dan kurangnya
dukungan lapis pondasi bawah dan tanah dasar.
·
Kelelahan pelat beton atau pecahnya
pelat beton.
·
Pelat beton kurang tebal.
Cara
perbaikan :
·
Pembangunan kembali pelat beton di
area pecah secara lokal.
·
Jika problemnya melebar, pembangunan
kembali kekerasan dengan lapisan tambahan (overlay) aspal.
19. Pelat
Terbagi (Divided Slab)
Pelat
terbagi adalah retakan yang membagi pelat menjadi empat atau Iebih bagian
pecahan yang diakibatkan oleh beban berlebihan atau oleh buruknya dukungan
pelat. Jika seluruh pecahan atau retakan berada di dalam kerusakan
pecah sudut, maka kategori kerusakan dianggap sebagai pecah sudut yang
parah.
Faktor
penyebab kerusakan :
Beban kendaraan berlebihan atau
dukungan di bawah pelat buruk.
Cara perbaikan :
·
Retak ditutup jika lebarnya lebih
dari 1/8 inch.
·
Penggantian pelat.
20.
Retak Daya Tahan (Durability
"D" Cracking)
Retak daya
tahan atau retak "D" disebabkan oleh ekspansi, yaitu akibat proses
beku-cair dan agregat besar yang dengan berjalannya waktu secara
berangsur-angsur yang memecahkan beton. Kerusakan ini nampak berupa
retakan-retakan yang berada di dekat sambungan atau retakan. Oleh akibat
beton retak-retak didekat sambungan atau retakan, endapan berwarna gelap
sering dijumpai di sekitar retak "D" ini. Tipe kerusakan ini
kadang-kadang dapat mengakibatkan disintegrasi pelat secara keseluruhan.
Faktor
penyebab kerusakan :
Ekspansi
yang timbul akibat proses beku-cair dari agregat besar yang dengan
berjalannya waktu secara berangsur-angsur akan memecahkan beton.
Cara perbaikan :
·
PenambaIan di seltirtili kedalarnan
·
SamIningan direkomtruksi
·
Penggatitian pt lal beton.
KERUSAKAN PADA LAPISAN CAMPURAN BERASPAL
PERKERASAN
LENTUR (FLEXIBLE PAVEMENT)
Perkerasan Lentur adalah perkerasan yang menggunakan aspal
sebagai bahan pengikat. Lapisan perkerasan lentur terdiri dari lapis permukaan
(surface course), lapis pondasi atas (base course), lapis pondasi bawah
(subbase course) dan lapis tanah dasar (subgrade). Lapisan-lapisan tersebut
bersifat memikul dan menyebarkan beban lalu lintas ke tanah dasar yang telah
dipadatkan. (Sukirman, 1991).
KERUSAKAN
JALAN
Menurut ASTM D6433 (2007) dalam perhitungan nilai kondisi
jalan menggunakan metode Pavement Condition Index (PCI), jenis-jenis kerusakan
pada perkerasan lentur terdiri dari Deformasi: bergelombang, alur, ambles,
sungkur, mengembang, benjol dan turun. Retak: memanjang, melintang, diagonal,
reflektif, blok, kulit buaya, dan bentuk bulan sabit. Kerusakan tekstur
permukaan: butiran lepas, kegemukan, agregat, licin dan stripping. Kerusakan
lubang, tambalan dan persilangan jalan rel. Kerusakan di pinggir perkerasan:
pinggir retak/pecah, bahu turun dan lain sebagainya.
JENIS,
PENYEBAB DAN PENANGANAN KERUSAKAN JALAN
Jenis
– jenis kerusakan perkerasan lentur (aspal), umumnya dapat diklasifikasikan
sebagai berikut:
1. Deformasi: bergelombang, alur,
ambles, sungkur, mengembang, benjol dan turun.
2. Retak: memanjang, melintang,
diagonal, reflektif, blok, kulit buaya, dan bentuk bulan sabit, halus, susut.
3. Kerusakan di pinggir perkerasan:
pinggir retak/pecah dan bahu turun.
4. Kerusakan tekstur permukaan: butiran
lepas, kegemukan, agregat licin dan stripping.
5. Kerusakan lubang
6. Tambalan dan Galian Utilitas
7. Persilangan jalan rel.
8. Erosi Jet Blast
9. Tumpahan Minyak
10. Konsolidasi atau Gerakan Tanah
Pondasi
1.
Deformasi
Deformasi yaitu perubahan permukaan jalan dari profil
aslinya merupakan kerusakan penting karena mempengaruhi kualitas kenyamanan
lalu lintas, dan mencerminkan kerusakan struktur perkerasan. Mengacu pada
AUSTROADS (1987) dan Shahnin (1994) beberapa tipe deformasi perkerasan Lentur
adalah :
a. Bergelombang / keriting
(Corrugation)
Keriting atau bergelombang adalah kerusakan akibat
terjadinya deformasiplastis yang menghasilkan gelombang-gelombang melintang
atau tegak lurus arah perkerasan. Biasa terjadi pada lokasi dimana lalu
lintas sering bergerak dan berhenti atau saat kendaraan mengerem pada turunan,
belokan tajam atau persimpangan. Gelombang-gelombang terjadi pada jarak yang
relatif teratur, dengan panjang kerusakan kurang dari 3 m di sepanjang
perkerasan.
Faktor Penyebab dari adanya
kerusakan
·
Aksi lalu lintas dan permukaan perkerasan atau lapis pondasi
yang tidak stabil karena kadar aspal terlalu tinggi
·
Agregat halus terlalu banyak, agregat berbentuk bulat dan
licin, semen aspal terlalu lunak, kadar air terlalu tinggi
·
Kadar air dalam lapis pondasi granuler (granular base)
terlalu tinggi, sehingga tidak stabil.
Resiko
lanjutannya
·
Area yang mengalami keriting meluas
·
Mengurangi kenyamanan dan keselamatan kendaraan
Data yang diperlukan untuk perbaikan yaitu
·
Kedalaman maksimum di bawah straight-edge, panjang 1,2
in,
·
Jarak dari puncak ke puncak gelombang keriting,
·
Panjang perkerasan yang dipengaruhi kerusakan tersebut.
Untuk cara penanganannya
·
Menambal di seluruh kedalaman.
·
Jika perkerasan mempunyai agregat pondasi (base) dengan
lapisan tipis perawat permukaan, maka permukaan dikasarkan, kemudian dicampur
dengan material pondasi, dan dipadatkan lagi sebelum meletakkan lapisan
permukaan kembali (resurfacing).
·
Jika perkerasan mempunyai tebal permukaan aspal dan pondasi
melebihi 50 mm, keriting dangkal dapat dibongkar dengan mesin
pengupas (pavement milling machine), diikuti dengan lapis tambahan
(overlay) dari campuran aspal panas 1-1MA (hot mix) agar struktur perkerasan
lebih kuat.
b. Alur (rutting)
Alur
adalah deformasi permukaan perkerasan aspal dalam bentuk turunnya perkerasan ke
arah memanjang pada lintasan roda kendaraan akibat beban lalu lintas yang
berulang pada lintasan road sejajar dengan as jalan, biasanya baru tampak jelas
saat hujan. Gerakan ke atas perkerasan dapat timbul di sepanjang pinggir
alur. Alur biasanya banyak nampak jelas ketika hujan dan terjadi genangan air
di dalamnya. Menurut Asphalt Institute MS-17, sebab-sebab terjadiya alur adalah
disebabkan oleh pemadatan (deformasi tanah dasar) atau perpindahan campuran
aspal yang tidak stabil.
Faktor Penyebab kerusakan yaitu
·
Pemadatan lapis permukaan dan pondasi (base) kurang,
sehingga akibat beban lalu lintas lapis pondasi memadat lagi.
·
Kualitas campuran aspal rendah, ditandai dengan gerakan arah
lateral dan ke bawah dari campuran aspal di bawah beban roda berat
·
Gerakan lateral dari satu atau lebih dari komponen pembentuk
lapis perkerasan yang kurang padat. Contoh terjadinya alur pada
lintasan roda yang disebabkan oleh deformasi
dalam lapis pondasi atau tanah-dasar
·
Tanah-dasar lemah atau agregat pondasi (base) kurang tebal,
periadatan atau terjadi
pelemahan akibat infiltrasi air tanah agregat pondasi (base) kurang tebal,
dan infiltrasi air tanah.
Resiko lanjutan
·
Terjadi kenaikan perkerasan secara berlebihan di sepanjang
sisi alur.
·
Mengurangi kenyamanan dan keselamatan kendaraan.
·
Alur apabila diuenangi air, selain kerusakan lebih meluas,
juga dapat mengakibatkan kecelakaan kendaraan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
·
Kedalaman maksimum dibawah straight-edge yang panjangnya 1,2
m, dan dipasang melintang.
·
Panjang alur.
Cara penanganannya yaitu
·
Seluruh kedalaman atau penambahan lapis tambahan (overlay)
campuran aspal panas (hot mix) dengan perataan dan pelapisan
permukaan. Perbaikan alur dengan menambal permukaan, umumnya hanya
untuk perbaikan sementara.
·
Jika penyebabnya adalah lemahnya lapis pondasi (base) atau
tanah-dasar, pembangunan kembali perkerasan secara total mungkin diperlukan,
ternasuk juga penambahan drainase, terutama jika air menjadi salah satu faktor
penyebab kerusakan.
c. Amblas (depressions)
Amblas
adalah penurunan perkerasan yang terjadi pada area terbatas yang mungkin dapat
diikuti dengan retakan penurunan. Ditandai dengan adanya genangan air pada
pemiukaan perkerasan yang membahayakan lalu-lintas yang lewat diukur
dengan straightedge.
Faktor penyebab kerusakan
· Beban lalu-lintas berlebihan.
· Penurunan sebagian dari perkerasan
akibat lapisan di bawah perkerasan mengalami penurunan.
Cara penanganannya yaitu
· Perawatan permukaan (surface
treatment) atau micro surfacing.
· Untuk area kerusakan yang besar,
perbaikan dapat dilakukan dengan menambal kulitnya (permukaan), atau menambal
pada seluruh kedalaman.
d. Sungkur (shoving)
Sungkur
adalah perpindahan permanen secara lokal dan memanjang dari permukaan
perkerasan yang disebabkan oleh beban lalu lintas. Karena saat lalu lintas
mendorong perkerasan, timbul gelombang pendek di permukaannya. Sungkur
melintang dapat timbul oleh gerakan lalu lintas membelok. Sungkur biasa terjadi
pada perkerasan aspal yang berbatasan dengan perkerasan beton semen portland
perkerasan beton bertambah panjang oleh kenaikan suhu dan menekan perkerasan
aspal.
Faktor
penyebab kerusakan
·
Stabilitas campuran lapisan aspal rendah. Kurangnya
stabilitas campuran dapat disebabkan oleh terlalu tingginya kadar aspal,terlalu
banyaknya agregat halus, agregat berbentuk bulat dan
licin atau terlalu lunaknya semen aspal.
·
Terlalu banyaknya kadar air dalam lapis pondasi granuler(granular
base).
·
Ikatan antara lapisan perkerasan tidak bagus
·
Tebal perkerasan kurang.
Resiko lanjutan
·
Area yang mengalami sungkur meluas.
·
Mengurangi kenyamanan dan keselamatan kendaraan.
·
Memicu terjadinya retakan dan air masuk ke dalam perkerasan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
·
Kedalaman maksimum cembungan diukur dari puncaknya, dengan
menggunakan straight-edge yang panjangnya 1,2 m.
·
Luas kerusakan.
Cara perbaikan
·
Perbaikan yang paling baik dilakukan dengan menambal di
seluruh kedalaman.
·
Jika perkerasan mempunyai agregat pondasi (base) dengan
perawat permukaan tipis, kasarkan permukaan, campur dengan material
agregat pondasi, dan padatkan sebelum meletakkan lapisan
permukaan kembali (resurfacing).
·
Jika perkerasan mempunyai tebal permukaan aspal dan lapis
pondasi 50 mm, sungkur dangkal dapat dibongkar dengan mesin pengupas (pavement
milling machine), yang diiikuti dengan lapis tambahan campuran aspal panas (hot
mix) agar memberikan kekuatan yang cukup pada perkerasan.
e. Mengembang (swell)
Pengembangan
adalah gerakan lokal ke atas dari perkerasan akibat pengembangan (pembekuan
air) dari tanah dasar atau dari bagian struktur perkerasan. Perkerasan yang
naik akibat tanah dasar yang mengembang ini dapat menyebabkan retaknya
permukaan aspal. Pengembangan dapat dikarakteristikkan dengan gerakan
perkerasan aspal, dengan panjang gelombang > 3 m.
Faktor penyebab kerusakan
·
Mengembangnya material lapisan di bawah perkerasan atau
tanah-dasar.
·
Tanah dasar perkerasan mengembang, bila kadar air naik.
Umumnya, hal ini terjadi bila tanah pondasi berupa lempung yang intidali
mengembang (lempung montmordlonite) oleh kenaikan kadar air.
Resiko lanjutan
·
Mengurangi kenyamanan dan membahayakan keselamatan
kendaraan.
·
Memicu terjadinya retakan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
·
Ketinggian maksimum cembungan diukur dari puncaknya, dengan
menggunakan straight-edge yang panjangnya 1.2 m atau lebih.
·
Luas kerusakan.
Cara perbaikan
·
Menambal di seluruh kedalaman
·
Pembongkaran total area yang rusak dan menggantikannya
dengan material baru.
·
Perataan permukaan dengan cara menimbunnya dengan material
baru.
·
Sembarang cara, untuk perbaikan pennanen, pada prinsipnya
harus ditujukan untuk menstabilkan kadar air dalam struktur perkerasan.
f. Tonjolan dan turun (hump and sags)
Tonjolan
adalah gerakan atau perpindahan ke atas, bersifat lokal dan kecil dari
permukaan perkerasan aspal. Sags adalah gerakan ke bawah dari permukaan
perkerasan. Bila perpindahan terjadi dalam area yang luas, disebuh swelling. Benjol
mempunyai pola tegak lurus arah lalu lintas.
Kerusakan benjol tidak sama dengan sungkur, di mana kerusakan
sungkur diakibatkan oleh perkerasan yang tidak stabil. Jika benjolan nampak
mempunyai pola tegak lurus arah lalu-lintas dan berjarak satu sama lain kurang
dari 10 ft (3 m), maka kerusakannya disebut keriting (corrugation).
Faktor penyebab kerusakan
·
Tekukan atau penggembungan dari perkerasan pelat beton di
bagian bawah yang diberi lapis tambahan (over/ay) dengan aspal.
·
Kenaikan oleh pembekuan es (lensa-lensa es).
·
Infiltrasi dan penumpukan material dalam retakan yang
diikuti dengan pengaruh beban lalu-lintas
Resiko lanjutan
Mengurangi kenyamanan dan keselamatan
kendaraan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
Benjol
dan penurunan diukur panjang dan tingginya.
Cara perbaikan
·
Cold mill.
·
Penambalan dangkal, parsial atau di seluruh kedalaman.
·
Pelapisan tambahan (overlay).
2.
Retak (Crack)
Retak
dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa
faktor dan melibatkan mekanisme yang kompleks. Secara teoritis, retak dapat
terjadi bila tegangan taik yang terjadi pada lapisan aspal melampui tegangan
tarik maksimum yang dapat ditahan oleh perkerasan tersebut. Misalnya, retak
cleh kelelahan (fatigue) terjadi akibat tegangan tank berulang-ulang akibat
beban lalu-lintas. Perkerasan yang kurang kuat tidak mempunyai tahanan terhadap
tegangan tarik yang tinggi. Mengacu pada AUSTROADS (1987), retak pada
perkerasan lentur dapat dibedakan menurut bentuknya yaitu :
a. Retak memanjang (longitudinal craks)
Retak
berbentuk memanjang pada perkerasan jalan, dapat terjadi dalam bentuk tunggal
atau berderet yang sejajar dan kadang-kadang sedikit bercabang. Retak memanjang
dapat terjadi oleh labilnya lapisan pendukung dari struktur perkerasan. Retak memanjang
dapat timbul oleh akibat beban maupun bukan. Retak yang bukan akibat beban,
misalnya oleh akibat adanya sambungan pelaksanaan ke arah memanjang.
Faktor penyebab kerusakan
·
Gerakan arah memanjang oleh akibat kurangnya gesek internal
dalam lapis pondasi (base) atau tanah-dasar, sehingga lapisan tersebut kurang
stabil.
·
Adanya perubahan volume tanah di dalam tanah-dasar oleh
gerakan vertikal.
·
Penurunan tanah urug atau bergeraknya lereng timbunan. Lebar
celah bisa mencapai 6 mm, sehingga memungkinkan adanya infiltrasi air dari
permukaan.
·
Adanya penyusutan semen pengikat pada lapis
pondasi (base) atau tanah-dasar.
·
Kelelahan (fatigue) pada lintasan roda.
·
Pengaruh tegangan termal (akibat perubahan suhu) atau
kurangnya pemadatan.
Resiko lanjutan
·
Mengganggu kenyamanan dan keselamatan
·
Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
·
Retak dengan celah yang terlalu besar memungkinkan air masuk
ke lapis pondasi dan tanah-dasar, sehingga melemahkan lapisan pendukung
perkerasan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
·
Lebar retak yang dominan.
·
Panjang retak yang dominan.
·
Jarak retakan.
·
Luas daerah kerusakan.
Cara perbaikan
Perbaikan atau penutupan retakan didasarkan
pada ukuran dan tingkat kerusakannya
b. Retak melintang (transverse cracks)
Retak
melintang merupakan retakan tunggal (tidak bersambungan satu sama lain) yang
melintang perkerasan. Perkerasan, retak ketika temperatur atau lalu-lintas
menimbulkan tegangan dan regangan yang melampaui kuat tarik atau kelelahan dari
campuran aspal padat. Retak macam ini biasanya berjarak yang mendekati sama.
Retak melintang akan terjadi biasanya berjarak lebar, yaitu sekitar 15 -
20 m. Dengan berjalannya waktu, retak melintang berkembang pada
interval jarak yang Iebih pendek. Retak awalnya nampak sebagai retak rambut,
danakan semakin lebar dengan berjalannya waktu.
Faktor penyebab kerusakan
·
Penyusutan bahan pengikat pada lapis pondasi dan
tanah-dasar.
·
Sambungan pelaksanaan atau retak susut (akibat temperature
rendah atau pengerasan) aspal dalam permukaan.
·
Kegagalan struktur lapis pondasi.
·
Pengaruh tegangan termal (akibat perubahan suhu) atau
kurangnya pemadatan.
Resiko lanjutan
·
Mengganggu kenyamanan dan keselamatan lalu-lintas.
·
Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
·
Retakan dengan celah yang terlalu besar memungkinkan air
masuk ke lapis pondasi dan tanah-dasar, sehingga melemahkan lapisan pendukung
perkerasan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
·
Lebar retak yang dominan.
·
Panjang retak yang dominan.
·
Jarak retakan.
·
Luas dacrah kerusakan.
Cara perbaikan
Perbaikan atau penutupan retakan
didasarkan pada ukuran dan tingkat kerusakannya
c. Retak diagonal (diagonal
cracks)
Retak diagonal adalah retakan yang
tidak bersambungan satu sama lain yang arahnya diagonal terhadap perkerasan.
Faktor penyebab kerusakan
·
Refleksi dari retak susut atau sambungan pada material
pengikat yang berada di bawahnya [umumya beton semen portland, lapis pondasi
rekat (cemented base) dan lapis pondasi aspal (asphalt base)].
·
Terjadi beda penurunan antara timbunan, galian atau
bangunan.
·
Desakan akar pohon-pohonan.
·
Pemasangan bangunan layanan umum.
Resiko lanjutan
·
Mengganggu kenyamanan dan keselamatan
·
Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
·
Retakan dengan celah yang terlalu besar memungkinkan air
masuk ke lapis pondasi dan tanah-dasar, sehingga melemahkan lapisan pendukung
perkerasan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
·
Lebar retak yang dominan.
·
Panjang retak yang dominan.
·
Luas daerah kerusakan.
Cara perbaikan
Perbaikan atau penutupan retakan
didasarkan pada ukuran dan tingkat kerusakannya secara pendekatan, tingkat
kerusakan perkerasan
d.
Retak Berkelok-kelok (Meandering Cracks)
Retak berkelok-kelok adalah retak
yang tidak saling berhubungan, polanya tidak teratur, dan arahnya bervariasi
biasanya sendiri-sendiri
Faktor penyebab kerusakan
·
Penyusutan material di bawah material rekat atau material
butiran halus tertentu.
·
Pelunakan tanah di pinggir perkerasan akibat kenaikan
kelembaban,atau terjadi beda penurunan antara timbunan, galian atau
struktur
·
Pengaruh akar tumbuh-tumbuhan.
Resiko lanjutan
·
Mengganggi kenyamanan dan keselamatan lalu-lintas.
·
Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
·
Retakan dengan celah yang terlalu besar memungkinkan air
masuk ke lapis pondasi dan tanah-dasar, sehingga melemahkan lapisan pendukung
perkerasan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
·
Lebar retak yang dominan.
·
Panjang retak yang dominan.
·
Luas daerah kerusakan.
Cara perbaikan
Perbaikan atau penutupan retakan
didasarkan pada ukuran dan tingkat kerusakannya
e. Retak reflektif sambungan (joint
reflective cracks)
Kerusakan
ini umumnya terjadi pada permukaan perkerasan aspal yang telah dihamparkan di
atas perkerasan beton semen portland (Portland Cement Concrete, PCC). Retak
terjadi pada lapis tambahan (overlay) aspal yang mencerminkan pola retak dalam
perkerasan beton lama yang berada di bawahnya. Jadi, retakan ini terjadi pada
lapis tambahan dalam perkerasan aspal, di mana retak pada lapisan lama belum
sempurna diperbaiki Pola retak dapat ke arah memanjang, melintang, diagonal
atau membentuk blok. Retak reflektif pada sambungan tidak termasuk retak
reflektif dari lapis pondasi (stabilisasi kapur atau semen). Retakan ini dapat
disebabkan oleh perubahan suhu atau kelembaban yang mengakibatkan pelat beton
di bawah lapisan aspal bergerak. Jadi, retak semacam ini bukan dari akibat
pengaruh beban lalu-lintas. Namun, beban lalu-lintas dapat memecahkan permukaan
aspal disekitar retakan. Jika perkerasan menjadi terpecah-pecah di sepanjang
retakan, maka retak ini disebut gompal (spoiling).
Faktor penyebab kerusakan
·
Gerakan vertikal atau horizontal pada lapisan dibawah lapis
tambahan, yang timbul akibat ekspansi dan kontraksi saat terjadi perubahan
temperatur atau kadar air.
·
Gerakan tanah pondasi.
·
Hilangnya kadar air dalam tanah-dasar yang kadar lempungnya
tinggi.
Resiko lanjutan
·
Mengganggu kenyamanan dan keselamatan lalu-lintas.
·
Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
·
Lebar retak yang dominan.
·
Panjang retak yang dominan.
·
Luas daerah kerusakan.
Cara perbaikan
Perbaikan atau penutupan retakan
didasarkan pada ukuran dan tingkat kerusakannya.
f. Retak blok (block cracks)
Retak blok ini berbentuk blok-blok besar yang saling
bersambugan, dengan ukuran sisi blok 0,20 sampai 3 meter, dan dapat membentuk
sudut atau pojok yang tajam. Kerusakan ini bukan karena beban lalu-lintas.
Kesulitan sering terjadi untuk membedakan apakah retak blok disebabkan oleh
perubahan volume di dalam campuran aspal atau di dalam lapis pondasi (base)
atau tanah-dasar. Retak blok biasanya terjadi pada area yang luas pada
perkerasan aspal, tapi kadang-kadang hanya terjadi pada area yang jarang
dilalui lalu-lintas. Tipe kerusakan ini, berbeda dengan retak kulit buaya yang
bentuknya lebih kecil, dan lebih banyak pecahan-pecahan dengan sudut tajam.
Selain itu, retak kulit buayalebih banyak disebabkan oleh beban kendaraan yang
berulang-ulang, yang dengan demikian kerusakan ini hanya terjadi pada jalur
lalu-lintasan roda.
Faktor penyebab kerusakan
·
Perubahan volume campuran aspal yang mempunyai kadar agregat
halus tinggi dari aspal penetrasi rendah dan agregat yang mudah menyerap
(odsorptive aggregate).
·
Pengaruh siklus temperatur harian dan pengerasan aspal.
·
Sambungan dalam lapisan beton yang berada di bawahnya.
·
Retak akibat kelelahan (fatigue) dalam lapisan aus aspal.
Resiko lanjutan
·
Mengganggu kenyamanan dan keselamatan lalu-lintas.
·
Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
·
Lebar retak yang dominan.
·
Lebar sel yang dominan.
·
Luas daerah kerusakan.
Cara perbaikan
·
Retak dapat ditutup dengan larutan pengisi. Retak yang besar
diisi dengan larutan emulsi aspal yang diikuti dengan
penanganan permukaan atau larutan pengisi.
·
Pengkasaran dengan pemanas (heater scarify) dan lapis
tambahan (overlay).
g. Retak kulit buaya (alligator cracks)
Retak
kulit buaya adalah serangkaian retak memanjang paralel yang membentuk banyak
sisi menyerupai kulit buaya dengan lebar celah lebih besar atau sama dengan 3
mm. Retak ini disebabkan oleh kelelahan akibat beban lalu-lintas
berulang-ulang. Retak dimulai dari bagian bawah permukaan aspal (atau pondasi
yang distabilisasi), di mana tegangan dan regangan tank sangat besar di bawah
beban roda. Retak merambat ke permukaan, awalnya berupa suatu
rangkaian retak-retak memanjang. Sesudah dibebani berulang-ulang,
retak saling berhubungan satu sama lain. Pecahan-pecahan, umumnya berukuran
kurang dari 0.6 ni pada nisi terpanjangnya. Retak kulit buaya terjadi hanya
pada daerah yang dipengaruhi beban kendaraan secara berulang-ulang,
seperti pada lintasan roda. Karena itu, retak ini tidak menyebar ke seluruh
area perkerasan, kecuali jika pola lalu-lintasnya juga menyebar. Pada lokasi
retak, mungkin diikuti atau tidak diikuti oleh penurunan, dan dapat terjadi di
mana saja dalam area permukaan perkerasan. Kesulitan terbesar dalam mengukur
retak kulit buaya adalah karena dua atau tiga tipe tingkat kerusakan sering
muncul di dalam satu area rusak. Bila beda tingkat kerusakan tidak bisa
dipisahkan, seluruh area harus diasumsikan mempunyai tingkat kerusakan
tertinggi yang ada di lokasinya.
Faktor penyebab kerusakan
·
Defleksi berlebihan dari permukaan perkerasan.
·
Gerakan satu atau lebih lapisan yang berada di bawah.
·
Modulus dari material lapis pondasi rendah.
·
Lapis pondasi atau lapis aus terlalu getas.
·
Kelelahan (fatigue) dari permukaan.
·
Pelapukan permukaan, tanah-dasar atau bagian perkerasan di bawah
lapis permukaan kurang stabil.
·
Bahan lapis pondasi dalam keadaan jenuh air, karena air
tanah naik.
Resiko lanjutan
·
Mengganggu kenyamanan dan keselamatan laiu-lintas.
·
Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
·
Lebar retak yang dominan.
·
Lebar sel yang dominan.
·
Luas daerah kerusakan.
Pilihan cara perbaikan
·
Penambalan parsial atau di seluruh kedalaman.
·
Jika tingkat kerusakan ringan, pemeliharaan sementara
seperti menutup dengan larutan penutup (slurry seal) atau penanganan permukaan
yang lain. Penambalan dapat membantu sebelum perbaikan permanen
dilakukan. Penutupan retakan dengan pengisi tidak begitu efektif
untuk perbaikan retak kulit buaya.
·
Lapisan tambahan.
h. Retak slip (slippage cracks) atau
retak bentuk bulan sabit
Retak
selip atau retak yang berbentuk bulan sabit yang diakibatkan oleh gaya-gaya
horizontal yang berasal dari kendaraan. Retak ini diakibatkan oleh kurangnya
ikatan antara lapisan permukaan dengan lapisan dibawahnya,sehingga terjadi
penggelineiran. Jarak retakan sering berdekatan dan berkelompok
secara paralel. Retakan ini sering terjadi pada tempat-tempat
kendaraan mengerem, yaitu pada saat turun dan bukit.
Faktor penyebab kerusakan
·
Kurangnya ikatan lapisan permukaan dengan lapisan
dibawahnya. Hal ini dapat disebabkan oleh debu, minyak, karet, kotoran, air
atau bahan lain yang tidak adhesif yang berada diantara lapis aus (wearing
course) dan lapisan di bawahnya. Biasanya, buruknya ikatan terjadi akibat tidak
digunakannya tack coat atau prime coat dengan lapisan tipis aspal pada agregat
pondasi (base).
·
Campuran terlalu banyak kandungan pasimya
·
Pemadatan perkerasan kurang.
·
Tegangan sangat tinggi akibat pengereman dan percepatan
kendaraan.
·
Lapis aus di permukaan terlalu tipis.
·
Modulus lapis pondasi (base) terlalu rendah.
Resiko lanjutan
·
Mengganggu kenyamanan dan keselamatan lalu-lintas.
·
Retak meluas ke seluruh area perkerasan
Data yang diperlukan untuk perbaikan
·
Lebar retak yang dominan.
·
Luas daerah kerusakan.
Cara perbaikan
Membongkar lapisan aspal yang rusak,
kemudian dilakukan penambalan permukaan.
i.
Retak halus (hair cracking)
Retak
halus (hair cracking) lebar celah lebih kecil atau sama dengan 3 mm, penyebab
adalah bahan perkerasan yang kurang baik, tanah dasar atau bagian perkerasan di
bawah lapis permukaan kurang stabil. Retak halus ini dapat meresapkan air ke
dalam lapis permukaan. Untuk pemeliharaan dapat dipergunakan lapis latasir,
atau buras. Dalam tahap perbaikan sebaiknya dilengkapi dengan perbaikan sistem
drainase. Retak rambut dapat berkembang menjadi retak kulit buaya.
j.
Retak susut (shrinkage cracks)
Retak
susut (shrinkage cracks), retak yang saling bersambungan membentuk kotak-kotak
besar dengan sudut tajam. Retak disebabkan oleh perubahan volume pada lapisan
permukaan yang memakai aspal dengan penetrasi rendah, atau perubahan volume
pada lapisan pondasi dan tanah dasar. Perbaikan dapat dilakukan dengan mengisi
celah dengan campuran aspal cair dan pasir dan melapisi dengan burtu.
3.
Kerusakan di Pinggir Perkerasan
Kerusakan
di pinggir perkerasan adalah retak yang terjadi di sepanjang pertemuan antara
permukaan perkerasan aspal dan bahu jalan, lebih-lebih bila bahu jalan tidak
ditutup (unsealed). Kerusakan ini terjadi secara lokal atau bahkan bisa
memanjang di sepanjang jalan, dan sering terjadi di salah satu bagian jalan,
atau sudut. Mengacu pada AUSTROADS (1987), kerusakan di pinggir perkerasan
aspal dapat dibedakan menjadi:
a.
Retak pinggir (edge cracking)/pinggir pecah (Edge Breaks)
Retak
tepi biasanya terjadi sejajar dengan tepi perkerasan dan berjarak sekitar
0,3-0,5 m dari tepi luar. Akibat pecah pinggir perkerasan,maka bagian ini
menjadi tidak beraturan.
Faktor penyebab kerusakan
·
Kurangnya dukungan dari arah lateral (dari bahu jalan).
·
Drainase kurang baik.
·
Kembang susut tanah di sekitarnya.
·
Bahu jalan turun terhadap permukaan perkerasan.
·
Seal coat lemah, adhesi permukaan ke lapis pondasi
(base)hilang.
·
Konsentrasi lalu-lintas berat di dekat pinggir perkerasan.
·
Adanya pohon-pohonan besar di dekat pinggir perkerasan.
Cara perbaikan
·
Perbaikan bergantung pada tingkat kerusakannya. Jika bahu
jalan tidak mendukung pinggir perkerasan, maka material yang buruk dibongkar
dan digantikan dengan material baik yang dipadatkan.
·
Jika air menjadi faktor penyebab kerusakan pecah, maka harus
dibuatkan drainase.
·
Penutupan retakan/penutupan permukaan.
·
Penambalan parsial.
b.
Jalur/Bahu turun (Lane/Shoulder Drop-Off)
Jalur/bahu
jalan turun adalah beda elevasi antara pinggir perkerasan dan bahu jalan. Bahu
jalan turun relatif terhadap pinggir perkerasan.Hal ini tidak dipertimbangkan penting
bila selisih tinggi bahu dan perkerasan kurang dari 10 sampai 15 mm.
Faktor penyebab kerusakan
·
Lebar perkerasan kurang.
·
Bahu jalan dibangun dengan material yang kurang tahan
terhadap erosi dan abrasi.
·
Penambahan lapis permukaan tanpa diikuti penambahan
permukaan bahu jalan.
Cara perbaikan
·
Untuk beda tinggi yang rclatif kccil dan bahu jalan berupa
aspal, maka campuran aspal panas (hot mix) dapat ditempatkanpada bagian yang
elevasinya berbeda.
·
Untuk beda tinggi yang besar, bahu jalan hams ditinggikan dengan
menghamparkan lapis tambahan (overlay).
·
Jika penyebabnya adalah drainase yang buruk, maka dibuatkan
lagi drainase yang baik.
·
Jika bahu jalan tidak diperkeras, maka dibongkar dan
material jelek diganti dengan material yang bagus dan dipadatkan.
4.
Kerusakan Tekstur Permukaan
Kerusakan
tekstur permukaan merupakan kehilangan material perkerasan secara
berangsur-angsur dari lapisan pennukaan ke arah bawah. Perkerasan nampak seakan
pecah menjadi bagian-bagian kecil, seperti pengelupasan akibat terbakar sinar
matahari, atau mempunyai garis-garis goresan yang sejajar. Butiran lepas dapat
terjadi di atas seluruh permukaan, dengan lokasi terburuk di jalur lalulintas.
Beberapa kerusakan yang tidak diperbaiki, dapat mengakibatkan berkurangnya
kualitas struktur perkerasan. Kerusakan tekstur permukaan aspal dapat dibedakan
menjadi:
a.
Pelapukan dan Butiran Lepas (Weathering and Raveling)
Pelapukan
dan butiran lepas (raveling) adalah disinegrasi permukaan perkerasan aspal
melalui pelepasan partikel agregat yang berkelanjutan, berawal dari permukaan
perkerasan mentijil ke bawah atau dari pinggir ke dalam. Butiran agregat
berangsur-angsur lepas dari permukaan perkerasan, akibat lemahnya pengikat
antara partikel agregat. Biasanya, partikel halus dari agregat
lepas lebih dulu, kemudian baru disusul partikel yang lebih nesar. Kerusakan
ini biasanya terjadi pada lintasan roda. Lepasnya butiran, biasanya terjadi
akibat beban lalu-lintas di musim hujan, yaitu ketika kekakuan bahan pengikat
aspal tinggi (Whiteoak, 1991). Selain itu, lepasnya butiran juga dapat
disebabkan oleh aksi abrasif dari ban kendaraan, khususnya di perempatan jalan
dan tempat parkir (Lavin, 2003).
Faktor penyebab kerusakan
·
Campuran material aspal lapis permukaan kurang baik.
·
Melemahnya bahan pengikat dan/atau batuan.
·
Pemadatan kurang baik, karena dilakukan pada musim hujan.
·
Agrcgat hydrophilic (agregat mudah menyerap air).
Cara perbaikan
Perawatan permukaan dengan
menggunakan chip .vcal atau slurry seal.
b.
Kegemukan (Bleeding/Flushing)
Kegemukan
adalah hasil dari aspal pengikat yang berlebihan, yang bermigrasi ke atas
permukaan perkerasan. Kelebihan kadar aspal atau terlalu rendahnya
kadar udara dalam campuran, dapat mengakibatkan kegemukan. Kegemukan juga
menyebabkan tenggelamnya agregat (parsial maupun keseluruhan) ke dalam pengikat
aspal yang menyebabkan berkurangnya kontak antara ban kendaraan dan batuan.
Kerusakan ini menyebabkan permukaan jalan menjadi licin. Pada temperatur
tinggi, aspal menjadi lunak dan akan terjadi jejak roda.
Faktor penyebab kerusakan
·
Pemakaian kadar aspal yang tinggi pada campuran aspal.
·
Kadar udara dalam campuran aspal terlalu rendah.
·
Pemakaian terlalu banyak aspal pada pekerjaan prune coat
atau tack coat.
·
Pada tambiilan, terlalu banyaknya aspal di bawah permukaan
tambalan.
·
Aeregat terpenetrasi ke dalam lapis pondasi, sehingga lapis
pondasi menjadi lemah.
Cara perbaikan
·
Pemberian pasir panas atau batu caring panas untuk
mengimbangi kelebihan aspal.
·
Jika kegemukan ringan, perawatan dilakukan dengan agregat
seal coat, dengan menggunakan agregat yang mudah menyerap.
c.
Agregat licin / Aus (polished aggregate)
Agregat
licin adalah licinnya permukaan bagian alas perkerasan, akibat ausnya agregat
di permukaan, Kecenderungan perkerasan menjadi licin dipengaruhi oleh
sifat-sifat geologi dari agregat. Akibat pelicinan agregat oleh lalu lintas,
aspal pengikat akan hilang dan permukaan jalan menjadi iicin, terutama sesudah
hujan, sehingga membahayakan kendaraan.
Faktor penyebab kerusakan
·
Agregat kasar di permukaan beton tidak tahan aus, berbentuk
bulat dan licin, tidak berbentuk kubikal. Beberapa agregat, khususnya batu
gamping. menjadi halus oleh pengaruh lalu-lintas.
·
Beberapa macam kerikil yang secara alarmi permukaannya
halus, jika digunakan untuk permukaan perkerasan tanpa memecahnya, maka akan menyebabkan
gangguan kekesatan permukaan jalan. Agregat halus ini menjadi licin bila basah
oleh air hujan.
Cara perbaikan
·
Pelapisan ulang (overlay) tipis.
·
Membersihkan bahan-bahan yang bisa membuat aus agregat
dilapisan permukaan
·
Penghamparan lapis tambahan (overlay).
d.
Stripping
Stripping
adalah suatu kondisi hilangnya agregat kasar dari bahan penutup yang
disemprotkan, yang menyebabkan bahan pengikat dalam kontak Iangsung dengan ban.
Pada saat musim panas, aspal dapat tercabut dan melekat pada ban kendaraan.
Faktor penyebab kerusakan
·
Kandungan pengikat terlalu sedikit.
·
Pengikat tidak mengikat batuan dengan baik (kotor, Agregrat
hydrophylic, batuan basah).
·
Penyerapan pengikat.
·
Kerusakan/ausnya batuan.
·
Pencampuran pengikat kurang baik.
·
Pemadatan kurang.
Cara perbaikan
Penghamparan lapis tambahan
(overlay) tipis.
5.
Lubang (Potholes)
Lubang
adalah lekukan permukaan perkerasan akibat hilangnya lapisan aus dart material
lapis pondasi (base). Kerusakan berbentuk lubang kecil biasanya berdiameter
kurang dari 0.9 m dan berbentuk mangkuk yang dapat berhubungan atau tidak
berhubungan dengan kerusakan permukaan lainnya. Lubang
bisa terjadi akibat galian utilitas atau tambalan di area perkerasan yang telah
ada. Lubang, umumnya mempunyai tepi yang tajam dan mendekati vertikal.
Lubang ini terjadi ketika beban lalu-lintas menggerus bagian-bagian kecil dari
permukaan perkerasan, sehingga air bisa masuk. Air yang masuk kc dalam lubang
dan lapis pondasi ini mempercepat kerusakan jalan. Jika lubang pada perkerasan
diciptakan oleh akibat retak kulit buaya yang sangat parah, maka
kerusakan ini harus diidentifikasikan sebagai kerusakan
lubang (pothole) dan bukan kerusakan tipe pelapukan(weathering) (Shahin,1994).
Faktor penyebab kerusakan
·
Campuran material lapis permukaan yang kurang baik.
·
Air masuk ke dalam lapis pondasi lewat retakan di permukaan
perkerasan yang tidak segera ditutup.
·
Beban lalu-lintas yang mengakibatkan disintegrasi lapis
pondasi.
·
Tercabutnya aspal pada lapisan aus akibat melekat pada ban
kendaraan.
Cara perbaikan
·
Perbaikan permanen dilakukan dengan penambalan diseluruh
kedalaman.
·
Perbaikan sementara dilakukan dengan membersihkan lubang dan
mengisinya dengan campuran aspal dingin yang khusus untuk tambalan
6.
Tambalan dan galian utilitas (patching and utility cut
patching)
Tambalan
(patch) adalah penutupan bagian perkerasan yang mengalami perbaikan. Kerusakan
tambalan dapat diikuti/tidak diikuti oleh hilangnya kenyamanan kendaraan
(kegagalan fungsional) atau rusaknya struktur perkerasan. Rusaknya tambalan
menimbulkan distorsi, disintegrasi, retak atau terkelupas antara tambalan dan
permukaan perkerasan asli. Kerusakan tambalan dapat terjadi karena permukaan
yang menojol atau ambles terhadap permukaan permukaan perkerasan. Jika
kerusakan terjadi pada tambalan maka kerusakan tersebut belum tentu disebabkan
oleh lapisan yang utuh.
Faktor penyebab kerusakan
·
Amblesnya tambalan umumnya disebabkan oleh kurangnya
pemadatan material urugan lapis pondasi (base) atau tambalan material aspal.
·
Cara pemasangan material bawah buruk.
·
Kegagalan dari perkerasan di bawah tambalan dan sekitarnya.
Cara perbaikan
· Perbaikan atau penggantian tambalan
di seluruh kedalaman untuk perbaikan permanen.
· Dilakukan penambalan permukaan untuk
perbaikan sementara.
7.
Persilangan jalan rel (railroad crossing)
Kerusakan
pada persilangan jalan rel dapat berupa ambles atau benjolan di sekitar
dan/atau antara lintasan rel.
Faktor penyebab kerusakan
·
Amblesnya perkerasan, sehingga timbul beda elevasi antara
permukaan perkerasan dengan permukaan rel.
·
Pelaksaaan pekerjaan perkerasan atau pemasangan jalan rel
yang buruk.
Resiko lanjutan
Mengganggu kenyamanan kendaraan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
Luas dari persilangan diukur.
Sembarang tonjolan besar yang diakibatkan oleh lintasan rel harus dianggap sebagai
bagian dari persilangan.
Cara perbaikan
·
Penambalan parsial atau di seluruh kedalaman.
·
Rekonstruksi persilangan jalan rel.
8.
Erosi Jet Blast (Jet Blast Erosion)
Erosi
jet blast adalah kerusakan perkerasan beton aspal pada bandara. Kerusakan ini
menyebabkan area permukaan aspal menjadi gelap, ketika pengikat aspal telah
terbakar atau terkarbonisasi. Area terbakar lokal mempunyai kedalaman yang
bervariasi sampai sekitar ½ in (12.7 mm) (Shahin, 1994). Erosi jet blast diukur
dalam satuan luas, feet persegi atau meter persegi.
9.
Tumpahan Minyak (Oil Spillage)
Tumpahan
minyak adalah kerusakan atau pelunakan permukaan perkerasan aspal di bandara
yang disebabkan oleh tumpahan minyak, pelumas, atau cairan yang lain. Tipe
kerusakan seperti ini, terutama tcrjadi pada perkerasan beton aspal di bandara.
Kerusakan diukur dalam satuan luas, feet persegi atau meter persegi.
10.
Konsolidasi atau Gerakan Tanah Pondasi
Penurunan
konsolidasi tanah di bawah timbunan menyebabkan distrorsi perkerasan.
Perkerasan lentur yang dibangun di atas kotoran atau tanah gambut, akan
memunculkan area yang ambles. Kegagalan urugan juga menyebabkan retak yang
berbentuk setengah lingkaran di permukaan perkerasan. Retak yang biasanya
berbentuk setengah lingkaran, ataupola memanjang pada perkerasan yang berada di
atas timbunan harus diselidiki kemungkinan adanya ketidakstabilan lereng.
Gerakan akibat mampatnya lapisan tanah lunak, tidak dipengaruhi oleh tebal
lapis pondasi (base) atau perkerasan. Gerakan ini ditandai dengan gerakan turun
perlahan. Kerusakan semacam ini dapat diperbaiki dengan meletakkan lapisan
perata, sehingga kualitas kerataan perkerasan dapat dikembalikan ke kondisinya
semula.Nama : M. Bayu Romza
NIM : 417110098
Kelas : 8C

Komentar
Posting Komentar